Sabtu, 04 Oktober 2014

Makalah SIA pada kasus perusahaan kecil



SISTEM INFORASI AKUTANSI
PADA PERUSAHAAN KECIL
(DALAM BIDANG AGROBISNIS PEMANDIRIAN PANGAN RUMAH TANGGA PETANI PEDESAAN)



Nama : Ulifah Saty Merianty Herlina Siahaan

Npm   : 37112521

Kelas  : 3 DB 06






UNIVERSITAS GUNADARMA 2014-2015



PENDAHULUAN

Tantangan perekonomian di era globalisasi saat ini adalah bagaimana subjek dari perekonomian Indonesia, yaitu penduduk Indonesia sejahtera. Indonesia mempunyai jumlah penduduk yang sangat besar, sekitar 235 juta jiwa tersebar dari Merauke sampai Sabang. Jumlah penduduk yang besar ini menjadi perhatian pemerintah pusat dan daerah, dalam hal memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya. Berdasarkan pertimbangan ini, maka sektor pertanian menjadi sektor penting dalam struktur perekonomian Indonesia. Seiring dengan berkembangnya perekonomian bangsa, maka dicanangkan masa depan Indonesia menuju era industrialisasi, dengan memperkuat sektor pertanian.
Sektor pertanian mengalami permasalahan dalam meningkatkan jumlah produksi pangan, terutama di wilayah tradisional di Jawa dan luar Jawa. Hal ini karena semakin terbatasnya lahan untuk bertani. Perkembangan penduduk yang semakin besar membuat kebutuhan lahan untuk tempat tinggal dan berbagai sarana pendukung kehidupan masyarakat juga bertambah. Perkembangan industri juga membuat pertanian beririgasi teknis semakin berkurang. Selain berkurangya lahan beririgasi teknis, tingkat produktivitas pertanian per hektare juga relatif stagnan. Salah satu penyebabnya adalah pasokan air untuk lahan pertanian juga berkurang. Banyak waduk dan embung serta saluran irigasi perlu diperbaiki. Hutan-hutan tropis yang juga semakin berkurang, ditambah lagi dengan siklus cuaca El Nino-La Nina karena pengaruh pemanasan global semakin mengurangi pasokan air untuk pertanian.
Sesuai dengan permasalahan aktual yang ada, Indonesia akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan di dalam negeri. Di kemudian hari kita mungkin saja akan semakin bergantung dengan impor pangan dari luar negeri. Impor memang dapat menjadi alternatif solusi untuk memenuhi kebutuhan pangan, terutama karena semakin murahnya produk pertanian, seperti beras yang diproduksi oleh Vietnam dan Thailand. Namun, kita juga perlu mencermati bagaimana arah ke depan struktur perekonomian Indonesia, dan bagaimana struktur tenaga kerja yang akan terbentuk berdasarkan arah masa depan struktur perekonomian Indonesia.
Struktur tenaga kerja kita sekarang masih didominasi oleh sektor pertanian sekitar 42,76 persen (BPS 2009), selanjutnya sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 20.05 persen, dan industri pengolahan 12,29 persen. Pertumbuhan tenaga kerja dari 1998 sampai 2008 untuk sektor pertanian 0.29 persen.
perdagangan, hotel dan restoran sebesar 1,36 persen, dan industri pengolahan 1,6 persen. Sebaliknya pertumbuhan besar untuk tenaga kerja ada di sektor keuangan, asuransi, perumahan dan jasa sebesar 3,62 persen, sektor kemasyarakatan, sosial dan jasa pribadi 2,88 persen dan konstruksi 2,74 persen. Berdasarkan data ini, sektor pertanian memang hanya memiliki pertumbuhan yang kecil, namun jumlah orang yang bekerja di sektor itu masih jauh lebih banyak dibandingkan dengan sektor keuangan, asuransi, perumahan dan jasa yang pertumbuhannya paling tinggi. Data ini menunjukkan peran penting dari sektor pertanian sebagai sektor tempat mayoritas tenaga kerja Indonesia memperoleh penghasilan untuk hidup.
Strategi yang dapat dilaksanakan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah melakukan revitalisasi berbagai sarana pendukung sektor pertanian, teknologi tepat guna, permodalan dan pembukaan lahan baru sebagai tempat yang dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Indonesia. Keberpihakan bagi sektor pertanian, seperti dukungan permodalan dari perbankan, ketersediaan pupuk, teknologi tepat guna dan sumber daya manusia yang memberikan konsultasi bagi petani dalam meningkatkan produktivitasnya, perlu dioptimalkan kinerjanya. Keberpihakan ini adalah insentif bagi petani untuk tetap mempertahankan usahanya dalam pertanian. Disatu sisi akan dapat meningkatkan penghasilan dilain pihak merupakan dorongan yang kuat bagi pentani untuk tidak pindah ke bidang usaha lain yang lebih menjanjikan.
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-M) yang dicanangkan Presiden RI pada tanggal 30 April 2007 di Palu – Sulawesi Tengah, juga dimaksudkan untuk penanggulangan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja di pedesaan. Kementrian Pertanian dalam rangka mendukung upaya pengentasan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja di pedesaan, membuat program pemberdayaan yaitu Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP). PUAP merupakan program yang diperuntukkan penanggulangan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja di perdesaan, sekaligus mengurangi kesenjangan pembangunan antar wilayah pusat dan daerah serta antar sub sektor.


ISI


OPTIMALISASI PENGEMBANGAN USAHA AGROBISNIS PEDESAAN.

Upaya yang perlu dilakukan dalam rangka optimalisasi Pengembangan Usaha Agrobisnis Pedesaan adalah dengan merevitalisasi dan intensifikasi usaha pertanian. Revitalisasi dapat dilakukan dengan meningkatkan sarana produksi, peningkatan sumberdaya manusia. Intensifikasi pertanian dapat dilakukan dengan peningkatan produktivitas, dengan jalan penggunaan teknologi pangan yang tepat, baik pemuliaan bibit tanaman, pemeliharaan tanaman dan teknologi penanganan saat panen dan pasca panen. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana membantu meng”akseskan” usaha pertanian dengan dunia perbankan. Ini menjadi permasalahan utama dari usaha pertanian karena hampir sebagain besar masih belum “bank able”. Artinya usaha pertanian masih sangat minim mendapat dukungan dari dunia perbankan. Hal ini karena pengelolaan lembaga pertanian masih belum banyak didukung laporan keuangan yang baik. Padahal pihak perbankan sangat membutuhkan Laporan keuangan itu untuk dijadikan dasar dalam memperkirakan arus kas, resiko dan kelangsungan usaha. Disisi lain usaha pertanian amat sangat membutuhkan permodalan sebagai sarana modal kerja dan pengembangan usaha. Untuk memecahkan dan menjembatani kedua lembaga ini maka perlu sekali lembaga-lembaga pertanian untuk dikenalkan dan ditraning tentang pentingnya pelaporan keuangan.

PERAN AKUNTANSI DALAM OPTIMALISASI PENGEMBANGAN USAHA AGROBISNIS PEDESAAN

Akuntansi mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan informasi keuangan. Akuntansi suatu sistem dengan input data/informasi dengan output informasi dan laporan keuangan. Akuntansi menghasilkan informasi keuangan tentang sebuah entitas. Informasi keuangan terkait suatu entitas dan dikomunikasikan kepada pemakai untuk pengambilan keputusan. Informasi yang dihasilkan disusun berdasarkan prinsip
akuntansi yang berlaku umum (GAAP):
·       Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
·       Laporan Laba Rugi Komprehensif
·       Laporan Arus Kas
·       Laporan Perubahan Ekuitas
·       Catatan atas laporan keuangan
Tujuan Laporan keuangan :
·       Memberikan infomasi yang menyangkut posisi keuangan,kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Laporan keuangan menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen (stewardship), dan pertanggung jawaban sumber daya yang dipercayakan kepadanya
·        Memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai
·       Menyediakan pengaruh keuangan dari kejadian di masa lalu dan tidak diwajibkan menyediakan informasi non keuangan.

Adanya pelaporan keuangan yang baik maka lembaga pertanian akan memiliki informasi keuangan tentang usaha yang mereka lakukan sehingga memungkinkan pihak yang berkepentingan terutama pihak bank untuk memprediksi prospek usaha pertanian. Dengan demikian akuntansi akan dapat dijadikan sarana bagi lembaga pertanian untuk menjadi lembaga ekonomi, yang dapat digunakan mengakses perbankan, sehingga bisa membantu mendapatkan permodalan bagi pengembangan usaha. Bagi petani sendiri informasi dari laporan keuangan yang akurat akan dapat digunakan untuk lebih baik dalam memanaje usaha pertanian. Misalnya dalam menetapkan besaran biaya produksi; baik benih, pupuk, obat-obatan, tenaga kerja. Selain itu adanya informasi yang tepat tentang permuliaan tanaman akan memungkinkan petani dapat memprediksi kebutuhan akan modal kerja baik saat penanaman dan saat pemeliharaan. Ketiadaan informasi akan menyebabkan petani akan gagal merencanakan waktu pemupukan penyemprotan, penyalinan tanaman yang akan menggangu perencanaan kas flow usaha pertanian. Selain itu informasi keuangan akan dapat menggambarkan siklus produksi pertanian dari mulai pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan sampai pada saat panen dan penjualan hasil panen. Informasi yang akurat tentang siklus produksi akan berguna bagi petani dan pihak yang berkepentingan dalam memprediksi kebutuhan modal kerja. Bagi pihak perbankan pemahaman tentang siklus produksi ini penting sekali karena penanganan kredit untuk usaha pertanian tentunya tidak bisa disamakan dengan usaha perdagangan dan usaha indutri lain. Sebab usaha pertanian baik produksi dan pemasarannya masih sangat tergantung factor lingkungan yang sangat sulit diprediksi dan sulit dikontrol. informasi siklus produksi yang tepat akan sangat membantu petani untuk dapat memperkirakan kapan usaha pertanian tertentu harus dimulai. Ketepan penetapan waktu tanam, ditambah informasi siklus produksinya akan dapat digunakan memprediksi harga jual dan pendapatan produk pertanian.
Faktor lingkungan yang sangat sulit dikontrol dan diprediksi ini maka mindset petani juga perlu dirubah, sehingga pendekatan pada usaha pertanian sekarang tidak hanya pada pendekatan produksi tetapi juga harus berubah ke pendekatan kebutuhan pasar. Untuk itu petani harus mulai mempertimbangkan dan menggunakan informasi keuangan dalam usaha pertaniannya. Kegagalan petani memenuhi kebutuhan pasar maka akan berpengaruh pada harga produk dan tentunya akan mempengaruhi pengahasilan dan pendapatan.


KESIMPULAN

Perkembangan usaha agribisnis, sebagai penggerak ekonomi perdesaan dinilai sangat lambat, hal ini disebabkan oleh terbatasnya akses petani terhadap permodalan, sarana produksi, ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) serta pasar. Kelembagaan agribisnis di perdesaan belum dapat berfungsi sebagai lembaga ekonomi. PUAP merupakan bentuk fasilitasi bantuan modal usaha untuk petani anggota Poktan/Gapoktan, baik petani pemilik, petani penggarap, buruh tani, maupun rumah tangga petani, oleh karena itu bantuan modal tersebut harus dapat berkembang dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Gabungan Kelompoktani (Gapoktan) merupakan kelembagaan tani pelaksana PUAP untuk penyaluran bantuan modal usaha bagi anggota. Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam pelaksanaan PUAP, Gapoktan akan di dampingi oleh tenaga Penyuluh Pendamping dan Penyelia Mitra Tani. Diharapkan Gapoktan dapat menjadi kelembaga ekonomi yang dimiliki dan dikelola oleh petani.

Teoritis Tentang SIA, SIM, Akutansi Keuangan, dan Akutansi Manajemen


PERBEDAAN SISTEM INFORMASI AKUTANSI
DAN
SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

Sistem Informasi Akuntansi (SIA) adalah sebuah sistem informasi yang menangani segala sesuatu yang berkenaan dengan Akuntansi. Akuntansi sendiri sebenarnya adalah sebuah sistem informasi.
Fungsi penting yang dibentuk SIA pada sebuah organisasi antara lain :

·       Mengumpulkan dan menyimpan data tentang aktivitas dan transaksi
·       Memproses data menjadi into informasi yang dapat digunakan dalam proses pengambilan keputusan
·       Melakukan kontrol secara tepat terhadap aset organisasi

Subsistem SIA memproses berbagai transaksi keuangan dan transaksi nonkeuangan yang secara langsung memengaruhi pemrosesan transaksi keuangan.
SIA terdiri dari 3 subsistem:

·       Sistem pemrosesan transaksi
(mendukung proses operasi bisnis harian)
·       Sistem buku besar atau pelaporan keuangan
(menghasilkan laporan keuangan, seperti laporan laba/rugi, neraca, arus kas, pengembalian pajak)
·       Sistem pelaporan manajemen
(yang menyediakan pihak manajemen internal berbagai laporan keuangan bertujuan khusus serta informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan, seperti anggaran, laporan kinerja, serta laporan pertanggungjawaban)


Sistem informasi manajemen (SIM) adalah bagian dari pengendalian internal suatu bisnis yang meliputi pemanfaatan manusia, dokumen, teknologi, dan prosedur oleh akuntansi manajemen untuk memecahkan masalah bisnis seperti biaya produk, layanan, atau suatu strategi bisnis. Sistem informasi manajemen dibedakan dengan sistem informasi biasa karena SIM digunakan untuk menganalisis sistem informasi lain yang diterapkan pada aktivitas operasional organisasi. Secara akademis, istilah ini umumnya digunakan untuk merujuk pada kelompok metode manajemen informasi yang bertalian dengan otomasi atau dukungan terhadap pengambilan keputusan manusia, misalnya sistem pendukung keputusan, sistem pakar, dan sistem informasi eksekutif.
Tujuan Umum :

·       Menyediakan informasi yang dipergunakan di dalam perhitungan harga pokok jasa, produk, dan tujuan lain yang diinginkan manajemen
·       Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perencanaan, pengendalian, pengevaluasian, dan perbaikan berkelanjutan
·       Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan

Ketiga tujuan tersebut menunjukkan bahwa manajer dan pengguna lainnya perlu memiliki akses ke informasi akuntansi manajemen dan mengetahui bagaimana cara menggunakannya. Informasi akuntansi manajemen dapat membantu mereka mengidentifikasi suatu masalah, menyelesaikan masalah, dan mengevaluasi kinerja (informasi akuntansi dibutuhkan dam dipergunakan dalam semua tahap manajemen, termasuk perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan).
Proses Manajemen, Proses manajemen didefinisikan sebagai aktivitas-aktivitas:

·       Perencanaan, formulasi terinci untuk mencapai suatu tujuan akhir tertentu adalah aktivitas manajemen yang disebut perencanaan. Oleh karenanya, perencanaan mensyaratkan penetapan tujuan dan identifikasi metode untuk mencapai tujuan tersebut
·        Pengendalian, perencanaan hanyalah setengah dari peretempuran. Setelah suatu rencana dibuat, rencana tersebut harus diimplementasikan, dan manajer serta pekerja harus memonitor pelaksanaannya untuk memastikan rencana tersebut berjalan sebagaimana mestinya. Aktivitas manajerial untuk memonitor pelaksanaan rencana dan melakukan tindakan korektif sesuai kebutuhan, disebut kebutuhan
·       Pengambilan Keputusan, proses pemilihan di antara berbagai alternative disebut dengan proses pengambilan keputusan. Fungsi manajerial ini merupakan jalinan antara perencanaan dan pengendalian. Manajer harus memilih di antara beberapa tujuan dan metode untuk melaksanakan tujuan yang dipilih. Hanya satu dari beberapa rencana yang dapat dipilih. Komentar serupa dapat dibuat berkenaan dengan fungsi pengendalian

Menurut Francisco Proses Manajemen adalah suatu proses Penukaran terhadap nilai dan jasa Bagian
SIM merupakan kumpulan dari sistem informasi:

·       Sistem informasi akuntansi (accounting information systems), menyediakan informasi dan transaksi keuangan
·       Sistem informasi pemasaran (marketing information systems), menyediakan informasi untuk penjualan, promosi penjualan, kegiatan-kegiatan pemasaran, kegiatan-kegiatan penelitian pasar dan lain sebagainya yang berhubungan dengan pemasaran
·       Sistem informasi manajemen persediaan (inventory management information systems)
·       Sistem informasi personalia (personal information systems)
·       Sistem informasi distribusi (distribution information systems)
·       Sistem informasi pembelian (purchasing information systems)
·       Sistem informasi kekayaan (treasury information systems)
·       Sistem informasi analisis kredit (credit analysis information systems)
·       Sistem informasi penelitian dan pengembangan (research and development information systems)
·       Sistem informasi analisis software
·       Sistem informasi teknik (engineering information systems)
·       Sistem informasi Rumah Sakit (Hospital information systems).

Semua system-sistem informasi tersebut dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada semua tingkatan manajemen, yaitu manajemen tingkat bawah,menengah, dan atas. Top level management dengan executive management dapat terdiri dari direktur utama, direktur dan eksekutif lainnya di fungsi pemasaran,pembelian,teknik,produksi,keuangan dan akuntansi. Sedangkan middle level terdiri dari manajer-manajer divisi dan manajer-manajer cabang. Lalu lower level management disebut dengan operating management, meliputi mador dan pengawas. Top level management disebut juga dengan strategic level, sedangkan middle level management disebut dengan tactical level, lalu lower management disebut dengan technical level.












AKUTANSI KEUANGAN
DAN
AKUTANSI MANAJEMEN

Akuntansi dalam bisnis dan dinamika perusahaan, mempunyai peran yang sangat penting terutama untuk memberikan informasi keuangan sebagai pendukung pengambilan keputusan. Berbagai macam kepentingan, keputusan, dan penggunaan informasi keuangan dalam perusahaan menyebabkan berkembangnya ilmu Akuntansi, informasi keuangan yang dihasilkan bukan hanya terbatas pada penyediaan laporan keuangan sebagai bentuk pertanggungjawaban manajemen saja, namun sebagai alat pendukung pengambilan keputusan di masa datang, peramalan laba, hingga akuisisi dan merger. Meskipun perkembangan Akuntansi sebagai disiplin ilmu begitu luas namun secara garis besar Akuntansi dapat dibagi menjadi dua tipe yaitu Akuntansi Keuangan dan Akuntansi Manajemen. Kedua tipe tersebut muncul karena dinamika perusahaan yang bertemu dengan disiplin ilmu Akuntansi dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan pengguna informasi keuangan yang berbeda. Pengambil keputusan yang berbeda, memerlukan informasi keuangan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Perbedaan pokok antara Akuntansi Keuangan dan Akuntansi Manajemen terletak pada:
1.    Pemakai Laporan Akuntansi dan tujuan mereka
2.   Lingkup Informasi
3.   Fokus Informasi
4.   Rentang Waktu
5.   Kriteria bagi informasi Akuntansi
6.   Sifat informasi
Akuntansi Keuangan
Akuntansi keuangan mempunyai tujuan untuk menyajikan informasi keuangan bagi pemakai di luar perusahaan, contohnya seperti pemegang saham, kreditor, analis keuangan, karyawan, instansi pemerintah dan lainnya. Sementara itu, tujuan masing-masing pemakai laporan keuangan dari pihak luar perusahaan adalah bentuk hubungan atau kerjasama yang akan mereka ambil di masa depan dengan perusahaan penerbit laporan keuangan, singkatnya para pemakai laporan keuangan menggunakan laporan keuangan tidak bertujuan untuk mengambil keputusan mengenai perusahaan, namun lebih pada untuk mengambil keputusan jenis dan sifat hubungan seperti apa yang akan di lakukan dengan perusahaan penerbit laporan keuangan di masa yang akan datang.
Untuk lingkup informasi, pada laporan Akuntansi Keuangan umumnya menyajikan informasi keuangan tentang perusahaan secara keseluruhan. Neraca (laporan posisi keuangan) yang menyajikan aset, kewajiban (liabilitas), dan modal perusahaan secara keseluruhan, ataupun laporan Rugi-Laba (laporan laba-rugi komprehensif) yang menyajikan hasil kegiatan dari perusahaan secara keseluruhan. Karena tujuan laporan keuangan untuk pemakai dari luar perusahaan, maka informasi yang ada dalam laporan keuangan lebih berbentuk ringkasan (summary) dan menggambarkan keuangan perusahaan secara keseluruhan. Hal ini sangat penting untuk pengguna laporan keuangan yang berasal dari luar perusahaan sebagai perluasan dari informasi mengenai perusahaan secara keseluruhan.
Ditinjau dari fokus informasi, Akuntansi Keuangan berfokus pada informasi masa lalu (historical). Akuntansi Keuangan menggambarkan suatu bentuk pertanggungjawaban dana yang sebelumnya dipercayakan oleh para penyedia dana dari pihak luar perusahaan kepada manajemen perusahaan.
Dari segi rentang waktu, Akuntansi Keuangan menghasilkan laporan yang kurang fleksibel dan hanya mencakup jangka waktu tertentu, seperti misalnya periode satu tahun (annual), periode setengah tahun (interim), periode satu kuartal, atau periode satu bulan.
Untuk kriteria bagi informasi Akuntansi Keuangan, merupakan prinsip-prinsip akuntansi yang lazim atau berterima secara umum. Prinsip-prinsip tersebut merupakan hasil dari perumusan organisasi yang berwenang seperti Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan Badan Pengawas  Pasar Modal (BAPEPAM) sebagai hasil dari tuntutan pemakai laporan keuangan yang berasal dari pihak luar perusahaan. Pemakai laporan keuangan dari pihak luar perusahaan tidak mempunyai pengetahuan langsung tentang praktik dalam perusahaan, laporan keuangan merupakan satu-satunya media komunikasi antara pihak luar dengan manajemen, karena itu laporan keuangan dari Akuntansi keuangan memerlukan suatu standarisasi bentuk laporan keuangan agar pengguna laporan keuangan dari pihak luar dapat membandingkan berbagai laporan keuangan dari beberapa perusahaan yang berbeda sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan tentang hubungan yang akan diambil dengan perusahaan di masa datang.
Sifat informasi dari Akuntansi Keuangan memerlukan tingkat ketepatan yang tinggi, objektif, dapat diuji kebenarannya, dan juga akurat, karena para pemakainya adalah pihak-pihak dari luar perusahaan yang menggunakan laporan keuangan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan. Untuk mendapatkan tingkat ketepatan tersebut perusahaan terkadang menggunakan jasa dari pihak ketiga yang bebas dari kepentingan apapun untuk memberikan pendapat tentang laporan keuangan perusahaan, yaitu auditor.
Akuntansi Manajemen
Berbeda dengan Akuntansi Keuangan yang mempunyai fokus laporan pertanggungjawaban dan ringkasan kondisi perusahaan kepada pihak luar perusahaan, laporan keuangan atau hasil olah informasi dari Akuntansi Manajemen mempunyai fokus menyediakan informasi keuangan bagi keperluan pihak internal perusahaan atau manajemen. Akuntansi Manajemen berhubungan dengan informasi mengenai perusahaan untuk memberikan manfaat bagi para pemakai laporan keuangan yang berada dalam perusahaan (manajemen) sebagai bahan pertimbangan yang mendukung dalam pengambilan keputusan.
Lingkup informasi pada Akuntansi Manajemen cenderung lebih sempit, tidak lagi berfokus pada perusahaan sebagai satu entitas melainkan lebih detil karena lingkup informasi bertujuan untuk melaporkan bagian-bagian tertentu dari perusahaan, seperti bagian produksi, bagian pemasaran dan lainnya. Namun kompleksitas lingkup informasi keuangan yang dihasilkan oleh Akuntansi Manajemen ini nantinya akan sejalan dengan tingkat-tingkat manajemen yang terlibat dalam membuat keputusan.
Dalam fokus informasi, Akuntansi Manajemen cenderung berorientasi pada masa yang akan datang, karena pengambilan keputusan selalu menyangkut tentang hal-hal yang berhubungan dengan kebijakan perusahaan di masa yang akan datang, namun untuk sumber informasi yang akan diolah bisa bervariasi, mulai dari biaya-biaya di masa lalu (historical cost), biaya sekarang (current cost) atau biaya masa datang (future cost).
Untuk Rentang waktu, Akuntansi Manajemen menyediakan rentang waktu yang jauh lebih fleksibel dibandingkan Akuntansi Keuangan, hal ini terjadi karena tuntutan dari manajemen perusahaan yang harus membuat keputusan-keputusan penting dalam waktu yang relatif singkat dan cepat, baik yang bersifat terstruktur, semi-terstruktur, hingga tidak terstruktur. Rentang waktu yang diberikan bisa berupa harian, mingguan, bulanan, atau bahkan hingga periode 10 tahun.
Kriteria bagi informasi Akuntansi Manajemen tidak dibatasi oleh prinsip-prinsip akuntansi yang berterima umum, selama itu memberi manfaat bagi pihak manajemen perusahaan, baik itu dalam hal pengukuran, ataupun perhitungan. Dalam Akuntansi manajemen, praktik-praktik yang telah terbukti berhasil dan bermanfaat pada suatu perusahaan kebanyakan akan ditiru oleh perusahaan-perusahaan lain yang kemudian akan menyebar luas dalam dunia industri. Selain itu, pada Akuntansi Manajemen tidak ada organisasi ataupun undang-undang yang mengatur praktik-praktiknya, selama itu bermanfaat untuk manajemen perusahaan maka perusahaan akan terus menggunakan praktik-praktik tersebut.
Akuntansi Manajemen menghasilkan informasi yang akan membantu manajemen untuk mengambil keputusan yang berhubungan dengan kebijakan perusahaan, baik untuk perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian, pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kebijakan dalam perusahaan selalu menyangkut masa yang akan datang. Maka dari itu Akuntansi Manajemen tidak hanya mengandalkan satu disiplin ilmu saja yaitu akuntansi, namun juga mengambil disiplin ilmu dari manajemen untuk mengatasi dan mengatur sumber daya dan waktu perusahaan, selain itu Akuntansi Manajemen juga menggunakan disiplin ilmu psikologi sosial ketika melakukan estimasi, perkiraan dan peramalan untuk penjualan produk, pengendalian sumber daya manusia. Akuntansi Manajemen sering mengumpulkan informasi-informasi yang relevan dengan pengambilan keputusan dan bersifat taksiran karena pengambilan keputusan selalu menyangkut tentang masa yang akan datang.


Created By :
Ulifah Saty Merianty Herlina Siahaan
37112521
3 DB 06